Monday, April 23, 2012

Gurauan Dari Rumah Tuhan

Pokoknya sholat Dzuhur itu empat rakaat!”

Lho, kenapa tidak dua rakaat saja biar lebih hemat" kata saya.

Jangan seenak jidat, ini bukan soal hemat atau boros! Ini mengenai ibadah! Jadi jangan bicara untung-rugi! Kamu pikir nungging-nungging, sujud-sujud, lima waktu dalam sehari tidak menyita waktu dan tenaga? Kurang goblok apa coba! Tapi itulah iman!” sanggah Pak Achmad.

Pak Achmad menyuguhkan rokok dan secangkir kopi untuk saya, kemudian dia kembali duduk bersila di teras surau, merapikan janggut sambil menikmati sebatang rokok kretek buatan lokal anak bangsa. Katanya, selain lebih ekonomis, penyakit yang ditimbulkannya pun sama saja dengan rokok-rokok mahal lainnya. Mungkin semenjak semua harga-harga melonjak naik, tidak ada pilihan baginya kecuali menurunkan selera rokoknya, terlebih anak-anak tetangga sekitar surau sudah tidak pernah datang lagi mengaji padanya. Menurut Pak Achmad, mereka lebih senang belajar mengaji dari televisi, selain tidak perlu membayar uang mingguan, mereka juga tidak akan kena marah dari Pak Achmad apabila salah mengeja huruf-huruf Arab.

Dulu Pak Achmad pernah ditawarkan bekerja sebagai pembaca Qur'an di tempat pemakaman umum. Dengan bermodalkan payung hitam dan satu kitab suci Qur'an, maka dia sudah bisa bekerja disana, melayani permintaan dari para peziarah untuk membacakan surat Yasin kepada sanak-saudara mereka yang sudah meninggal.

Jika dihitung-hitung, pengahasilan yang akan diterimanya pun cukup besar -jika dibandingkan menjadi pengurus surau, namun Pak Achmad menolak, menurutnya, ayat-ayat Tuhan itu diturunkan sebagai petunjuk untuk mereka yang masih hidup, bukan untuk dibacakan kepada orang-orang yang sudah mati. Mengurusi rumah Tuhan jauh lebih menyenangkan katanya, dari pada harus menjual ayat-ayat Tuhan, terlebih kepada orang-orang yang sudah mati.

"Baiklah jika itu mengenai kesenangan, lalu kenapa sholat Dzuhurnya tidak delapan rakaat saja, bukankah lebih banyak rakaat yang dikerjakan akan lebih banyak pahala yang didapat" gerutu saya.

"Ngawur kamu! Ini bukan matematika, ini bukan soal satu ditambah satu sama dengan dua, ini tentang ibadah! Jadi jangan bicara logika! Kamu pikir nungging-nungging, sujud-sujud, lima waktu dalam sehari bisa diterima dengan akal sehat? Kurang kerjaan tahu! Tapi itulah iman!" sanggah Pak Achmad lagi.

Hampir satu jam saya menumpang berteduh di surau ini, dan sepertinya hujan sudah mereda, saya harus segera berpamitan dengan Pak Achmad, semoga saja motor saya tidak mogok setelah diguyur hujan sedari tadi, saya tidak mau terlambat menghadiri acara Paskah hari ini. 

2 comments: