“Pokoknya
sholat Dzuhur itu empat rakaat!”
“Lho,
kenapa tidak dua rakaat saja biar lebih hemat" kata saya.
“Jangan
seenak jidat, ini bukan soal hemat atau boros! Ini mengenai ibadah!
Jadi jangan bicara untung-rugi! Kamu pikir nungging-nungging,
sujud-sujud, lima waktu dalam sehari tidak menyita waktu dan tenaga?
Kurang goblok apa coba! Tapi itulah iman!” sanggah Pak Achmad.
Pak
Achmad menyuguhkan rokok dan secangkir kopi untuk saya, kemudian dia
kembali duduk bersila di teras surau, merapikan janggut sambil
menikmati sebatang rokok kretek buatan lokal anak bangsa. Katanya,
selain lebih ekonomis, penyakit yang ditimbulkannya pun sama saja
dengan rokok-rokok mahal lainnya. Mungkin semenjak semua harga-harga
melonjak naik, tidak ada pilihan baginya kecuali menurunkan selera
rokoknya, terlebih anak-anak tetangga sekitar surau sudah tidak
pernah datang lagi mengaji padanya. Menurut Pak Achmad, mereka lebih
senang belajar mengaji dari televisi, selain tidak perlu membayar
uang mingguan, mereka juga tidak akan kena marah dari Pak Achmad
apabila salah mengeja huruf-huruf Arab.
Dulu
Pak Achmad pernah ditawarkan bekerja sebagai pembaca Qur'an di tempat
pemakaman umum. Dengan bermodalkan payung hitam dan satu kitab suci
Qur'an, maka dia sudah bisa bekerja disana, melayani permintaan dari
para peziarah untuk membacakan surat Yasin kepada sanak-saudara
mereka yang sudah meninggal.
Jika
dihitung-hitung, pengahasilan yang akan diterimanya pun cukup besar
-jika dibandingkan menjadi pengurus surau, namun Pak Achmad menolak,
menurutnya, ayat-ayat Tuhan itu diturunkan sebagai petunjuk untuk
mereka yang masih hidup, bukan untuk dibacakan kepada orang-orang
yang sudah mati. Mengurusi rumah Tuhan jauh lebih menyenangkan
katanya, dari pada harus menjual ayat-ayat Tuhan, terlebih kepada
orang-orang yang sudah mati.
"Baiklah
jika itu mengenai kesenangan, lalu kenapa sholat Dzuhurnya tidak
delapan rakaat saja, bukankah lebih banyak rakaat yang dikerjakan
akan lebih banyak pahala yang didapat" gerutu saya.
"Ngawur
kamu! Ini bukan matematika, ini bukan soal satu ditambah satu sama
dengan dua, ini tentang ibadah! Jadi jangan bicara logika! Kamu pikir
nungging-nungging, sujud-sujud, lima waktu dalam sehari bisa diterima
dengan akal sehat? Kurang kerjaan tahu! Tapi itulah iman!"
sanggah Pak Achmad lagi.
Hampir
satu jam saya menumpang berteduh di surau ini, dan sepertinya hujan
sudah mereda, saya harus segera berpamitan dengan Pak Achmad, semoga
saja motor saya tidak mogok setelah diguyur hujan sedari tadi, saya
tidak mau terlambat menghadiri acara Paskah hari ini.
keren, Om!
ReplyDeletemakasih kamu :D
Delete